Skor Bank

Skor ini menunjukkan seberapa baik kebijakan dari bank Anda dalam setiap temaSemakin tinggi skor, semakin baik kebijakan bank Anda terhadap tema tersebut. Jika bank Anda belum memiliki skor yang baik, Anda dapat mengambil tindakan untuk mendorong mereka meningkatkannya di masa depan, namun jika skor bank Anda sudah baik, Anda juga dapat mengirimkan pujian.

Skor rata-rata HSBC

Dinilai dari sisi kebijakan kredit yang sensitif sosial dan lingkungan, HSBC menempati urutan pertama dari 11 bank yang dinilai dengan skor 37,83 persen dari skor maksimal 100 persen. Hal ini dikarenakan HSBC Indonesia telah merujuk pada kebijakan ESRM (Environmental and Social Risk Management) serta telah mengadopsi banyak kesepakatan dan konvensi internasional di tema/sektor yang dinilai. Konvensi yang telah diadopsi tersebut seperti Equator Principles, UN Global Compact, EITI, IFC Environmental Enterprises dan sebagainya.

Skor tertinggi didapatkan oleh HSBC dari tema hak-hak pekerja 60,42 persen; pertambangan 57,50 persen; hak asasi manusia 56,73 persen; kehutanan 54,44 persen; pangan 47,16 persen; keanekaragaman hayati 46,43 persen; pembangkit listrik 39,20 persen; manufaktur 37,50 persen; kesehatan 36,61 persen; minyak dan gas 35,19 persen. Sementara itu, skor menegah dan rendah didapat HSBC pada beberapa tema dan sektor yakni transparansi dan akuntabilitas 29,17 persen; perubahan iklim 27,72 persen; persenjataan 25,00 persen; pajak dan korupsi 23,08 persen; perikanan 18,42 persen dan remunerasi dengan angka 10,71 persen.

X

Skor rata-rata Citibank

Citibank mendapatkan peringkat ke-2 dari 11 bank yang dinilai dalam penilaian ini dengan skor 36,08 persen. Hal ini dikarenakan kebijakan ESRM Citibank (Environmental and Social Risk Management) merujuk pada lembaga induk yang memang sudah cukup lengkap dan banyak mengadopsi kesepakatan-kesepakatan internasional untuk dunia bisnis misalnya seperti Equator Principles, UN Global Compact, IFC Environmenetal health and Safety Guidelines, IFC Performance Standards, serta UN Guiding Principles on Business and Human Rights.

Citibank mendapatkan nilai paling tinggi untuk tema keanekaragaman hayati 65,18 persen; hak asasi manusia 53,85 persen; hak-hak pekerja 53,13 persen; pembangkit listrik 47,73 persen; transparansi dan akuntabilitas 46,53 persen; pangan 44,89 persen; kehutanan 45,00 persen; minyak dan gas 44,91 persen; perubahan iklim 36,41 persen; kesehatan 33,93 persen; pertambangan 30,83 persen; industri manufaktur 28,57 persen; perikanan 18,42 persen; pajak dan korupsi 15,38 persen dan remunerasi 12,50 persen. Hanya ada satu tema yakni persenjataan yang tidak mendapatkan skor sama sekali (0). 

X

Skor rata-rata The Bank of Tokyo - Mitsubishi UFJ

Mitsubishi-UFJ menempati urutan ke-3 dari 11 bank yang dinilai dengan agregat 19,81 persen. Di antara bank asing, nilai Mitsubishi-UFJ paling rendah dikarenakan baru tiga kesepakatan internasional yang diadopsi yaitu Equator Principles, UN Global Compact dan IFC Performance Standards.

Nilai paling tinggi didapat dari hak asasi pekerja 46,88 persen dan keanekaragaman hayati 35,71 persen. Untuk tema dan sektor lain yakni transparansi dan akuntabilitas 29,17 persen; kesehatan 26,79 persen; pangan 25,57 persen; hak asasi manusia 24,04 persen; minyak dan gas 23,15 persen; perubahan iklim 21,20 persen; pembangkit listrik dan pertambangan masing-masing dengan skor yang sama 18,75 persen; manufaktur 17,86 persen; kehutanan 16,67 persen; pajak dan korupsi 7,69 persen dan persenjataan 4,69 persen. Mitsubishi-UFJ tidak mendapatkan skor (0,0) di dua tema dan sektor yakni perikanan dan remunerasi. 

X

Skor rata-rata Danamon

Danamon menempati peringkat ke-4 dari 11 bank yang dinilai, dengan agregat nilai rata-rata 10,98 persen. Danamon mendapat point untuk tema hak-hak pekerja 16,67 persen; keanekaragaman hayati 47,62 persen; pajak dan korupsi 23,08 persen; perikanan 8,77 persen; pangan 10,87 persen; kehutanan 5,56 persen; pertambangan 7,50 persen; minyak dan gas 8,33 persen; pembangkit listrik 10,23 persen; serta transparansi dan akuntabilitas 37,04 persen. Poin-poin ini didapat karena Danamon menyebutkan bahwa ia memerlukan garansi bahwa klien yang akan diberikan pinjaman misalnya, tidak melakukan eksploitasi buruh dan pemaksaan atau tidak mempekerjakan buruh anak sama sekali.

Danamon juga telah menyatakan tidak akan membiayai proyek yang berlokasi di daerah-daerah yang sensitif secara sosial maupun ekologis atau kawasan konservasi keanekaragaman hayati maupun budaya, atau yang memperdagangkan satwa atau tanaman liar yang dilindungi. Namun demikian, Danamon tidak mendapat poin apapun (0) untuk tema perubahan iklim, kesehatan, hak asasi manusia, persenjataan, industri manufaktur dan remunerasi karena belum mempublikasikan kebijakan kredit apapun yang terkait dengan elemen-elemen yang dinilai dalam tema dan sektor-sektor ini. 

X

Skor rata-rata BNI

BNI mendapat peringkat ke-5 dari 11 bank yang dinilai dengan nilai rata-rata 6,37 persen. Walaupun sudah baik untuk ukuran bank nasional, tetapi nilainya masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan bank-bank asing. Untuk tema perubahan iklim misalnya, BNI memperoleh skor 16,30 persen, tertinggi dari bank nasional lain yang rata-rata tidak mendapatkan skor apapun. Skor pada tema lainnya yakni hak asasi manusia 5,77 persen; alam ; pajak dan korupsi 15,38 persen; pangan 6,82 persen; industri manufaktur 5,36 persen; pembangkit listrik 4,55 persen; serta skor transparansi dan akuntabilitas sebesar 42,36 persen.

BNI mendapatkan nilai cukup baik, salah satunya karena telah mengadopsi UN Global Compact pada tahun 2013. BNI juga telah merujuk pelaporannya dengan menggunakan Global Reporting Initiative (GRI) G4 (termasuk GRI Financial Services Sector Supplement), dan merupakan bank nasional pertama yang menyusun Laporan Keberlanjutan yang terpisah pertama kali pada tahun 2007. BNI juga melaporkan rating PROPER perusahaan yang ia danai dalam Laporan Keberjutan sekaligus menyatakan bahwa BNI tidak akan memberikan pinjaman kepada perusahaan yang memiliki rating PROPER yang buruk. Namun nilai BNI belum optimal (skala penilaian adalah 0-100 persen sedangkan nilai BNI secara rata-rata hanyalah 6,37 persen, karena masih lebih banyak mempublikasikan kebijakan operasional BNI sendiri daripada kebijakan pemberian kredit/investasi BNI kepada calon peminjam, sebagaimana tujuan dari pemeringkatan ResponsiBank ini. 

X

Skor rata-rata Bank Mandiri

Sebagai bank terbesar, Mandiri hanya menempati peringkat ke-6 dari 11 bank yang dinilai dengan agregat nilai rata-rata 3,46 persen dari nilai maksimum 100 persen. Mandiri hanya mendapat skor pada tiga tema saja yaitu pajak dan korupsi 15,38 persen; pembangkit listrik 4,55 persen; serta transparansi dan akuntabilitas 35,42 persen. Poin ini didapat antara lain karena Mandiri menyebutkan tentang kebijakan anti gratifikasi dan fraud serta disclosure data cabang Mandiri di Cayman Island, juga karena Laporan Keberlanjutan Mandiri yang telah merujuk pada standar pelaporan GRI Generasi 4. Mandiri tidak mendapatkan poin apapun (0) untuk 13 tema/sektor lain.Dalam tema dan sektor perubahan iklim, kesehatan, hak asasi manusia, hak-hak pekerja, keanekaragaman hayati, persenjataan, perikanan, pangan, kehutanan, industri manufaktur, pertambangan, minyak dan gas dan remunerasi karena belum mempublikasikan kebijakan kredit apapun yang terkait dengan elemen-elemen yang dinilai dalam tema dan sektor tersebut.  

X

Skor rata-rata BRI

BRI menempati peringkat ke-7 dari 11 bank yang dinilai, dengan agregat nilai rata-rata 3,09 persen. Sebagaimana kedua bank nasional pemerintah lain pada kelas buku 4, BRI telah merujuk pelaporannya kepada GRI G4 (termasuk GRI Financial Services Sector Supplement). BRI mendapatkan skor 7,69 persen pada tema pajak dan korupsi; 2,84 persen dari tema pangan serta 30,56 persen pada sektor transparansi dan akuntabilitas. Pada tema transparansi dan akuntabilitas ini, BRI memiliki skor yang cukup memadai karena menyatakan dalam Laporan Keberlanjutan bahwa BRI melakukan penilaian investasi “sesuai ketentuan Bank Indonesia, yang menentukan feasibility pemberian kredit, dan memperhatikan pemenuhan tanggung jawab lingkungan (RKL&RPL, AMDAL), pemenuhan kewajiban untuk pekerja, pelaksanaan K3, dan kepatuhan tata kelola”.

Namun demikian, informasi ini masih telalu umum, sehingga BRI tidak mendapat poin apapun (0) sewaktu dinilai untuk tema perubahan iklim, kesehatan, hak asasi manusia, hak-hak pekerja, keanekaragaman hayati, persenjataan, perikanan, industri manufaktur, pertambangan, minyak dan gas, pembangkit listrik dan remunerasi. 

X

Skor rata-rata Panin Bank

Panin berada pada urutan ke-8 dari 11 bank yang dinilai, dengan nilai rata-rata 2,95 persen dari nilai maksimum 100 persen. Panin hanya mendapatkan skor pada 3 tema yaitu tema pajak dan korupsi 7,69 persen; remunerasi 21,43 persen serta transparansi dan akuntabilitas 18,06 persen karena kebijakan umum anti-korupsi dan anti-gratifikasi serta anti-pencucian uang, yang merupakan kebijakan umum grup yang juga telah diatur oleh regulator lembaga keuangan nasional, serta pelaporan keuangan yang sampai level provinsi. Panin tidak mendapat poin apapun (0) untuk 13 tema/sektor yaitu perubahan iklim, kesehatan, hak asasi manusia, hak-hak pekerja, keanekaragaman hayati,  persenjataan, perikanan, pangan, kehutanan, industri manufaktur, pertambangan, minyak dan gas, serta pembangkit listrik karena belum mempublikasikan kebijakan kredit apapun yang terkait dengan elemen-elemen yang dinilai dalam tema dan sektor-sektor ini.

X

Skor rata-rata BCA

BCA menempati peringkat ke-9 dari 11 bank yang dinilai dalam pemeringkatan ResponsiBank ini, dengan nilai rata-rata hanya 1,74 persen (dari skala maksimum 100 persen). Skor BCA kosong (0) di hampir semua tema dan sektor saat dinilai dengan perangkat ResponsiBank, kecuali untuk tema Pajak dan Korupsi 7,69 persen; serta Transparansi dan Akuntabilitas 20,14 persen karena BCA mencantumkan kebijakan terkait Good Corporate Governance (GCG) misalnya tentang struktur penggajian, kebijakan anti-korupsi dan fraud serta pelaporan keuangan yang menunjukkan sektor dimana ia berinvestasi.

Untuk tema-tema sosial dan lingkungan hidup seperti perubahan iklim, kesehatan, hak asasi manusia, hak-hak pekerja, keanekaragaman hayati, persenjataan, sektor keuangan, perikanan, pangan, kehutanan, industri manufaktur, pertambangan, minyak dan gas, pembangkitan listrik dan remunerasi, BCA sama sekali tidak mempublikasikan kebijakan pemberian pinjaman apapun dalam hal ini. Akibatnya, perolehan skor BCA cukup buruk dibandingkan dengan bank-bank nasional lain pada kelas BUKU 4. 

X

Skor rata-rata CIMB Niaga

CIMB-Niaga menempati peringkat ke-10 dari 11 bank yang dinilai, dengan agregat nilai rata-rata 1,52 persen. CIMB-Niaga mendapatkan poin untuk di dua tema yaitu pajak dan korupsi 7,69 persen; serta transparansi dan akuntabilitas sebesar 16,67 persen. CIMB-Niaga tidak mendapatkan poin apapun (0) untuk tema kesejahteraan hewan, perubahan iklim, kesehatan, hak asasi manusia, hak-hak pekerja, keanekaragaman hayati, persenjataan, sektor finansial, perikanan, pangan, kehutanan, perumahan dan real-estate, industri manufaktur, pertambangan, minyak dan gas, pembangkit listrik dan remunerasi karena belum mempublikasikan kebijakan kredit apapun yang terkait dengan elemen-elemen yang dinilai dalam tema dan sektor-sektor ini. 

X

Skor rata-rata OCBC NISP

OCBC-NISP menempati peringkat terbawah dari 11 bank yang dinilai, dengan agregat nilai rata-rata 1,13 persen. OCBC-NISP mendapatkan skor hanya di satu tema saja yakni tranparansi dan akuntabilitas sebesar 18,06 persen. Bank ini tidak mendapat skor (0) di 15 sektor atau tema lainnya yakni, perubahan iklim, kesehatan, hak asasi manusia, hak-hak pekerja, keanekaragaman hayati, pajak dan korupsi, persenjataan, perikanan, pangan, kehutanan, industri manufaktur, pertambangan, minyak dan gas, pembangkit listrik dan remunerasi karena belum mempublikasikan kebijakan kredit apapun yang terkait dengan elemen-elemen yang dinilai dalam tema dan sektor-sektor ini.

X

Tahukah Anda uang yang Anda simpan di Bank digunakan untuk apa?

Membantu dan berbagi Panduan Fair Finance

Terimakasih telah berbagi

Pesan anda telah terkirim

×